Pimpinan yang bijaksana bagi Bawahan
29 Januari 2009
Pimpinan yang bijaksana sudah merupakan tuntutan dalam perusahaan-perusahaan baik yang kecil maupun perusahaan yang besar. Saat ini sudah tidak diperlukan lagi Pimpinan yang Otoriter, pimpinan yang selalu merasa diri paling benar. Seperti kata orang-orang “biar gimanapun yang namanya pimpinan itu tidak pernah salah, kalaupun pimpinan itu salah yang lebih salah ya bawahannya”. Itulah paradigma lama yang segera harus dibuang jauh-jauh, bila perlu dihilangkan sama sekali. Kuno!, Arogan!
Dalam satu perusahaan, karyawan tingkat bawah (sebut saja bawahan) adalah asset yang berharga, karena tanpa bawahan seorang pimpinan pun tidak dapat berbuat apa2. Lain halnya kalau dia mengelola kios kecil, sempit, yang hanya bisa ditongkrongi oleh satu orang, nah disitulah dia bisa jadi pimpinan dan anak buah sekaligus, mau marah sak marah-marahnya, mau jungkir balik juga gak masalah. Lah Cuma dia sendiri kok!
Pimpinan atau Atasan yang bijaksana sangat berpengaruh besar dalam keberhasilan satu perusahaan. Tentang hal ini saya tertarik dengan tulisan dari Bapak Lutfi (seorang widyaiswara dari Badan Diklat Propinsi Jawa Tengah) yang menurut saya cukup bermanfaat untuk direnungkan. Ini dia !!! :
http://paknewulan.wordpress.com/2007/12/31/guru-pun-mendambakan-atasan-yang-bijaksana/
…… atasan yang bijaksana menjadi suatu hal yang paling didambakan oleh para staf buat meningkatkan motivasi kerjanya. Bahkan guru pun ternyata juga mendambakan atasan yang bijaksana. Sesuatu yang di luar hipotesisku mengingat profesi guru itu menurut aku merupakan profesi yang mandiri, dalam arti interaksi dengan atasan tidak seketat staf struktural. Sebagai bukti, hasil analisis dataku yang terakhir saat aku mengajar materi Budaya Kerja dengan peserta 95 % guru, ternyata atasan yang bijaksana juga menduduki urutan pertama yang mempengaruhi motivasi kerja.
Secara lengkap, urutan motivasi kerja pada Diklat Prajabatan Golongan III Angkatan XVII yang kebetulan pesertanya sebagian besar merupakan guru dari Kabupaten Magelang, setelah saya olah, adalah sebagai berikut :
1. Atasan Yang Bijaksana
Ada 19 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel atasan yang bijaksana merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Dengan adanya atasan yang bijaksana maka bawahan akan bekerja dengan lebih senang, nyaman dan meningkatkan gairah bekerja. Dengan demikian bawahan akan bertanggungjawab penuh terhadap pekerjaannya tanpa merasakan adanya tekanan dari atasan.
2. Hubungan emosional antar Karyawan Yg Harmonis
Ada 3 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel hubungan antar karyawan yang harmonis merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Alasannya, pekerjaan yang dilakukan banyak membutuhkan interaksi dan kerjasama antar karyawan sehingga hubungan yang harmonis antar karyawan sangat dibutuhkan.
3. Sarana dan Prasarana Kantor Yg Memadai
Hanya ada 2 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel sarana dan prasarana kantor merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Menurutnya dengan adanya sarana prasarana yang memadai, pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah, lancar dan dengan hasil yang lebih baik.
4. Unit Kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan
Ada 7 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel unit kerja yang sesuai latar belakang pendidikan merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Dengan latar belakang pendidikan yang sesuai maka pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih nyaman dan enjoy. Disamping itu, jika terdapat masalah atau rintangan dalam pelaksanaan pekerjaan maka PNS akan merasa lebih siap untuk menyelesaikannya.
5. Pembagian dan Pendelegasian Tugas Yang Jelas
Ada 3 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel pembagian dan pendelegasian tugas yang jelas merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Dengan pembagian dan pendelegasian tugas yang jelas maka akan mencegah terjadinya saling langgar dan saling lempar tanggungjawab antar staf.
6. Nilai-Nilai luhur yg dikembangkan di unit kerja
Tak satupun peserta yang menyatakan bahwa variabel pengembangan nilai-nilai luhur merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
7. Pemberian wewenang & tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa variabel pemberian wewenang dan tanggung jawab merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
8. Penghargaan Penuh untuk Pekerjaan Yang Dilaksanakan dg Baik
Hanya ada satu peserta yang menyatakan bahwa variabel penghargaan penuh merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
9. Honor atau Insentif Yang Cukup
Ada 2 orang peserta yang menyatakan bahwa honor atau insentif yang cukup merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
10. Pekerjaan yang menarik dan menantang kemampuan intelegensia
Ada 2 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel pekerjaan menarik dan menantang merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Pekerjaan yang menarik dapat dijadikan sarana untuk mengukur kualitas diri agar dapat bekerja sesuai tuntutan jaman.
11. Kesempatan untuk aktualisasi diri
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa variabel aktualisasi diri merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
12. Kesempatan belajar
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa variabel kesempatan belajar merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.
13. Adanya Peluang untuk dipromosikan oleh pimpinan
Hanya ada 1 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel peluang promosi dari atasan merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Menurutnya, kesempatan berkarier ke jenjang yang lebih tinggi adalah salah satu tujuan dalam bekerja.
Gimana, cukup menarik kan untuk direnungkan, terutama bagi calon calon atasan maupun yang sudah jadi atasan tapi merasa belum menjadi atasan yang bijaksana.