Berikut adalah catatan kecil yang disarikan dan diinspirasi dari:

Buku : Kiat Jitu memotivasi karyawan

Pengarang : Soejitno Irmin, Abdul Rochim

Penerbit : Seyma Media, 2004

Sangat diharapkan catatan kecil ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dalam mengembangkan pendidikan

dan meningkatkan kapasitas staf institusi pendidikan.

Sukses suatu institusi adalah sukses bersama, artinya semua capaian institusi sebenarnya adalah capaian kolektif.

Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu tim selalu ada anggota yang bersifat sebagai motor untuk hal-hal

tertentu, demikian juga anggota yang lain. Keanekaragaman talenta/bakat alam dari anggota suatu institusi sebenarnya

adalah kekuatan sebuah institusi. Dalam hal ini maka berbagai bentuk penyeragaman yang dalam arti tertentu baik,

namun dalam hal ini perlu dilihat secara kritis dan kontekstual.

Salah satu fungsi utama seorang pimpinan adalah menggerakkan bawahan agar bisa mengeluarkan semua potensi

yang dimiliki untuk tercapainya tujuan bersama (tujuan institusi). Karena setiap orang adalah unik, memiliki kemauan dan

keinginan, maka menggerakan orang tidak sama dengan menggerakan mesin. Dalam hal ini harus ada kesadaran

bahwa setiap orang mempunyai sifat dan perilaku yang berbeda. Dengan realita tersebut maka pimpinan perlu

memahami beberapa hal yang bisa berupa kiat atau seni dalam memimpin.

Beberapa kiat sederhana dalam memberikan semangat pada karyawan atau staf dapat diringkas sebagai berikut:

- Pimpinan sebaiknya memahami sifat dan tingkah laku stafnya.

- Pimpinan sebaiknya membuat pekerjaan lebih menarik bagi seluruh staf.

- Pimpinan memahami bahwa teguran dan perintah sebagai alat komunikasi yang baik.

- Pimpinan sebaiknya membuat staf semakin dewasa.

- Pimpinan sebaiknya dapat bertindak sebagai konselor dan pelatih bagi stafnya.

- Pimpinan sebaiknya menghindari sikap yang dapat mematikan motivasi staf.

- Pimpinan sebaiknya bisa memberikan kritik yang membangun.

- Pimpinan sebaiknya memberikan kiat-kiat bagaimana staf dapat memotivasi diri.

- Pimpinan sebaiknya memberikan sikap dan perilaku teladan.

- Pimpinan sebaiknya juga berkenan melakukan melakukan hal-hal kecil yang membuat staf merasa bangga.

Butir-butir di atas dapat diuraikan dengan lebih rinci sesuai dengan jenis layanan, ukuran dan kekhasan masing-masing

institusi, berikut sebagai ilustrasi diuraikan tentang butir 9 tentang sikap dan perilaku teladan. Banyak sekali sikap dan

perilaku teladan namun secara umum dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Pemimpin sebaiknya menunjukkan sikap disiplin yang tinggi

Pertama perlu diingat bahwa banyak kesuksesan dicapai karena disiplin yang tinggi. Namun demikian ini bukan harga

mati, artinya tetap harus ada toleransi. Misal: bagaimana kalau mahasiswa datang terlambat karena ada kecelakaan di

jalan dan dia melakukan pertolongan sehingga menyebabkan mahasiswa terlambat, apakah lalu mahasiswa tidak boleh

masuk kelas? Jadi disiplin diperlukan namun dengan tidak meninggalkan kemanusiaan.

Sekilas disiplin merupakan sesuatu yang enak dan mudah diucapkan namun tidak mudah diimplementasikan terlebih

kalau kita belum terbiasa. Jadi disiplin lebih berkait dengan kebiasaan, seperti mandi pagi bagi yang terbiasa akan

terasa badan segar namun bagi yang belum bisa jadi siksaan luar biasa untuk bangun lebih awal dari saat ayam jantan

berkokok.

Bekerja tepat waktu adalah keindahan, semua itu sebaiknya dimulai dari pimpinan, staf yang baik akan cepat tanggap

dan beradaptasi melihat sendiri kedisiplinan pimpinan. Akhirnya kedisiplinan akan berkembang menjadi kebiasaan dan

budaya dalam suatu institusi.

2. Pemimpin sebaiknya tidak membiarkan dirinya sendiri melakukan penyimpangan

Pemimpin yang baik dan menghormati kepemimpinannya pasti akan mencegah dirinya sendiri untuk berbuat sesuatu

yang dapat melunturkan kehormatannya. Pimpinan yang baik pasti akan bertangung jawab atas kepemimpinannya

dengan tidak melakukan hal yang tidak pantas (sifatnya pasti normatif). Sebenarnyalah seseorang disebut pemimpin

karena masih menjadi teladan, ketika sikap dan perbuatannya sudah tidak pantas dicontoh maka saat itu juga luntur

atau hilanglah nilai-nilai kepemimpinannya. Mungkin saja ia masih memegang jabatannya namun pada hakikatnya ia

bukan lagi pemimpin namun sekadar penguasa.

3. Pemimpin sebaiknya tidak mengajak staf melakukan atau berbuat yang tidak pantas

Benjamin Franklin pernah berkata “fool things I have done”. Beliau selalu mencatat kesalahan-kesalahan

yang dilakukan setiap hari. Hal itu adalah pengakuan yang tulus bahwa manusia tak lepas dari kesalahan. Catatan itu

adalah bahan untuk kajian manajemen hati untuk peningkatan kualitas dengan semangat continuous quality

Kantor Jaminan Mutu UGM

http://kjm.ugm.ac.id/web _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 29 January, 2009, 13:48

improvement. Pemimpin yang bijak pasti sering menghitung-hitung kesalahannya sendiri walau tak tampak di mata

orang lain dan pemimpin tersebut pasti tidak punya waktu untuk menghitung kesalahan orang lain, tidak akan mengajak

atau melakukan kesalahan secara bersama-sama dengan sengaja.

4. Pemimpin sebaiknya mempunyai etos kerja yang tinggi.

Staf yang melihat pemimpinnya mudah lungkrah tak semangat akan mudah terjangkiti semangat tersebut sehingga ikutikutan

mudah lungkrah, maka hal ini perlu menjadi perhatian para pemimpin. Pemimpin tidak pantas patah arang karena

program kerjanya gagal di tengah jalan. Etos kerja dan semangatnya akan melebihi kegagalan tersebut. Pemimpin yang

baik mempunyai semangat kerja tinggi, pantang menyerah, tidak mudah putus asa dan berani mengambil risiko.

Pemimpin harus mampu bangkit dari kegagalan dan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Pemimpin yang baik

tidak mau menyalahkan anak buahnya meskipun anak buahnya mempunyai andil dalam kegagalan tersebut, namun

sebagai pemimpin ia harus dengan gagah berani mengoper atau mengambil alih kesalahan anak buah menjadi

kesalahannya sendiri.

5. Pemimpin sebaiknya mempunyai loyalitas yang tinggi

Pemimpin dengan loyalitas tinggi bisanya bukan tipe kutu loncat yang pindah-pindah tempat untuk keuntungan diri,

walaupun tak ada etika dan aturan yang melarang hal tersebut namun pemimpin yang baik tidak melakukannya karena

memiliki kesadaran bahwa pimpinan adalah juga sebagai teladan bagi stafnya. Pemimpin yang baik tak mudah silau oleh

aneka bujukan dan tawaran. Dalam hal menjaga loyalitas pemimpin dapat mangingat masa awalnya sendiri di mana dia

dibesarkan dan kesadaran akan loyalitas dan ketulusan stafnya yang secara langsung juga ikut membesarkannya.

6. Pemimpin sebaiknya dapat mengendalikan emosinya

Pemimpin yang baik akan mampu membedakan antara kepemimpinan dan kekuasaan. Pada hakikatnya memimpin dan

berkuasa adalah dua hal yang berbeda. Biasanya semakin tinggi jabatannya akan semakin besar pula kekuasaanya, di

sini godaan bagi pemimpin juga akan semakin besar. Pejabat yang baik akan menggunakan jabatannya untuk

memimpin, bukan untuk berkuasa. Pejabat yang pemimpin tidak mungkin menjalankan roda kepemimpinannya dengan

tingkat emosi yang luar biasa. Staf juga akan merasa terpaksa menjadi anak buah pemimpin yang tidak mampu

mengendalikan perilakunya. Plato memberikan ungkapan indah bahwa orang yang paling merugi adalah orang yang

kalah dengan emosinya sendiri dan sejarah membuktikan telah banyak pemimpin hancur gara-gara emosinya sendiri.

Hal ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pemimpin agar selalu mengendalikan emosi diri.

7. Pemimpin sebaiknya bersikap adil dan bijak

Adil dan bijaksana adalah dambaan banyak orang, serta bertindak bijaksana dalam seluruh aspek yang menyangkut

tugas dan wewenangnya merupakan ciri-ciri pemimpin yang ideal. Pemimpin sebaiknya mampu menampilkan dirinya

sebagai seorang yang selalu berpikir positif dengan bersikap rasional dan objektif karena hal ini sebagai prasyarat

pendukung kebijaksanaan. Pemimpin yang bijaksana tidak akan bertindak gegabah dalam memutuskan sesuatu

sebelum memahami pokok persoalannya.

Selanjutnya bersikap adil dan bijaksana dalam menilai prestasi staf juga merupakan komponen penting dalam

kepemimpinan. Pemimpin yang baik akan menjunjung nilai-nilai profesionalitas, hal ini sangat berkait sewaktu pemimpin

akan melakukan mutasi stafnya dalam rangka penyegaran ataun peningkatan mutu institusi. Semoga keadilan dan

kebijaksanaan benar-benar membumi di setiap instansi serta organisasi sehingga dapat dinikmati bersama seluruh staf.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi siapa saja yang kebetulan mempunyai kesempatan mendengar atau

membacanya. (GST)

Kantor Jaminan Mutu UGM

http://kjm.ugm.ac.id/web _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 29 January, 2009, 13:48

One Response to “Catatan Kecil tentang Pimpinan”

  1. Micko Says:

    saya sangat menikmati arti seorang pemimin dan menjadi pemimpin……dalam artikel ini..
    semoga dengan cuplikan ini kita bisa berintropeksi diri untuk selalu menjadi seorang pimpinn yang bisa mengayomi seluruh elemen yanga dibawahnya……
    good artikel…….Mungkin lain kali kalau ada suatu artikel tentang kepemimpinan bisa dikirim ke email saya…..


Leave a Reply